Diundang Pramuka, Raja Swedia Kunjungi Indonesia

Foto: worldscoutfoundation.org


Jakarta - Raja Swedia akan melakukan kunjungan resmi ke Indonesia. Ia datang untuk memenuhi undangan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka sebagai Ketua World Scout Foundation.

Raja Y. M. Carl XVI Gustav akan tiba di Indonesia hari ini, Senin (30/1/2012). Esok harinya, ia akan melakukan kunjungan kehormatan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana Merdeka.

“Pertemuan antara Presiden RI dengan Raja Swedia selaku Chief Scout dari masing-masing negara diharapkan akan mempererat jejaring kepramukaan antara kedua negara," Kata Staf Khusus Presiden bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah, dalam rilisnya kepada wartawan, Senin (30/1/2012).

Pada kunjungan kehormatan, Presiden RI selaku Ketua Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka akan menganugerahkan Lencana Tunas Kencana kepada Raja Swedia. Penghargaan tersebut diberikan kepada mereka yang berjasa memberikan bimbingan, dukungan dan bantuan yang amat besar bagi perkembangan gerakan pramuka di Indonesia.

Raja Swedia juga dijadwalkan untuk meletakkan karangan bunga di Taman Makam Pahlawan Kalibata di Jakarta serta mengunjungi Candi Borobudur dan Prambanan di Jawa Tengah. Selain itu, ia akan menghadiri sejumlah acara Gerakan Pramuka di Cibubur, Jakarta, dan Yogyakarta.

World Scout Foundation adalah organisasi internasional yang membantu pertumbuhan dan perkembangan kepramukaan di seluruh dunia dengan menyediakan dukungan keuangan untuk Organisasi Dunia Gerakan Pramuka. Organisasi ini berinvestasi secara permanen melalui sumbangan modal dari individu, yayasan, korporasi, pemerintah, dan dari anggota Gerakan Pramuka yang ingin membantu kaum muda belajar nilai-nilai positif dan menjadi pemimpin masa depan.

Realita dan Kendala yang Dihadapi Pandega Gudep Yang Berpangkalan di Perguruan Tinggi

Apabila memperhatikan sejarah munculnya golongan Pramuka Pandega maka dapat disimpulkan bahwa keberadaan golongan Pandega diharapkan mampu memberi­kan peranan yang penting bagi pembentukan dan pengembangan calon-calon Pembina Pramuka yang berkualitas. Demikian pula halnya keberadaan Pramuka Pandega Gugus­depan yang berpangkalan di perguruan tinggi, diharapkan pula dapat memberikan sumbangan dalam pencetakan Pembina Pramuka yang cakap, tangguh dan berkualitas. Namun demikian, setelah lebih 30 tahun usaha pengembangan Pramuka Pandega Gugusdepan yang berpangkalan di perguruan tinggi yang dilakukan melalui regulasi oleh Kwartir Nasional dan Ditjen Dikti Depdikbud, dan kegiatan-kegiatan tingkat regional dan nasional (baik kegiatan bakti maupun diskusi, lokakarya, simposium dan sebagainya) tidak dapat memberikan hasil yang signifikan terhadap konsep yang telah digulirkan.
Kenyataan tersebut dapat diketahui dari laporan-laporan dan pengamatan bahwa masih banyak kesulitan bagi satuan-satuan (baca: Gugusdepan) dalam memperoleh Pembina berkualitas.
Bahkan tidak hanya Pembina yang berkualitas, tetapi usaha memenuhi Pembina juga merupakan kesulitan. Kekurangan tenaga Pembina ini semakin dirasakan setelah dialihfungsikannya Sekolah Pendidikan Guru (SPG), sehingga Gerakan Pramuka merasa kehilangan salah satu sumber dalam upaya pencetakan Pembina Pramuka.
Memperhatikan kondisi seperti itu, kemudian kita akan bertanya: Lantas apa yang sebenarnya telah kita perbuat selama ini? Kiranya sulit saya mengatakan siapa yang salah, karena persoalan yang membelit dalam pembinaan Pramuka Pandega Gugusdepan yang berpangkalan di perguruan tinggi ibarat benang kusut. Untuk itulah saya lebih suka menyatakan pertanyaan seperti di atas.
Ide Dasar Golongan Pandega dan Racana Pandega
Membicarakan ide dasar golongan Pandega tidak akan terlepas dari dua hal, yaitu (1) sejarah munculnya golongan Pandega di Indonesia dan (2) ide dasar Baden Powell (BP) tentang Rovering.
Memperhatikan munculnya golongan Pandega sebagai satuan pendidikan dalam Gerakan Pramuka dapat dikatakan unik. Pertama kali golongan Pandega diujicobakan oleh Drs. Fuad Hassan pada tahun 1964 (Alm. Prof Dr. Fuad Hassan, mantan Mendikbud) di Fakultas Psikologi UI, yang pada waktu itu masih berupa eksperimen yang berusaha membentuk satuan khusus Pramuka bagi para mahasiswa yang telah lepas dari usia Penegak. Memang pada awalnya tidak ditujukan untuk membentuk satuan pendidikan baru sebagai kelanjutan dari golongan Penegak. Namun perkembangan berikutnya, pada Musppanitra III tahun 1974 di Ujung Pandang satuan Pandega diputuskan menjadi satuan pendidikan, dan pada tahun itu pula Kwartir Nasional memasukkan ke dalam Petunjuk Penyelenggaraan Gugusdepan. Baru sejak itulah sebe­narnya golongan Pandega resmi menjadi satuan pendidikan dalam Gerakan Pramuka.
Menilik perkembangannya, eksistensi golongan Pandega sulit dipisahkan dari golongan Penegak, kecenderungan ini masih dapat diamati hingga masa sekarang. Berbagai kebijakan tentang golongan Pandega selalu diintegrasikan dengan golongan Penegak. Hal ini tidak dapat terlepas dari pengaruh konsep pembagian peserta didik dalam kepanduan oleh BP, yaitu hanya dikenal Cub (Siaga), Scout (Penggalang) dan Rover (Penegak). Dan memang pada berbagai negara ada yang menambah lagi golon­gan setelah Penegak yaitu Senior Rover. Walaupun istilah Rover dan konsep Rovering masih melekat pada aktivitasnya. Implementasi nyata konsepsi Rovering (dapat dibaca buku karya BP berjudul Rovering to Success) adalah pada bentuk-bentuk kegiatan serta penggunaan kelembagaan Racana, Dewan  Racana beserta pengurusnya dan adanya tata adat Racana.
Golongan Pandega merupakan satuan pendidikan terakhir dalam Gerakan Pramuka sebelum seorang anggota Pramuka melepaskan atributnya sebagai peserta didik. Ditinjau dari hal tersebut dapat dikatakan bahwa golongan Pandega merupakan satuan pendidikan yang berat, karena secara langsung harus mampu menyiapkan peserta didik untuk berperan aktif terjun di masyarakat. Di samping itu menyiapkan Pandega menjadi kader Gerakan Pramuka.
Selanjutnya, golongan Pandega sebagai satuan pendidikan dalam Gerakan Pramuka harus dipandang secara komprehensif dengan satuan pendidikan sebelumnya, dan dengan strategi pencapaian tujuan Gerakan Pramuka. Karenanya Pandega disamping sebagai peserta didik, dia juga diberi kesempatan untuk mengabdi serta mengelola kegiatan dan pendidikan. Justru pada bentuk pengabdian dan proses pemandirian inilah esensi bentuk dan arahan pembinaan Pramuka Pandega. Dan esensi inilah yang akan dapat membedakan antara golongan Pandega dan golongan Penegak.
Usaha pembinaan Pramuka Pandega di tingkat Gugusdepan dilakukan pada wadah pembinaan yang disebut Racana. Di dalam Racana, yang merupakan sekelompok Pramuka usia 21 tahun sampai dengan 25 tahun di bawah bimbingan seorang Pramuka Pandega, berlangsung suatu proses pendidikan yang lebih banyak merupakan proses interaksi antar Pandega itu sendiri. Proses interaksi itu mendorong proses sosialisasi berbagai nilai, norma, sikap, pengetahuan, bahkan keterampilan. Jadi proses itu tidak dipolakan seperti hubungan Pembina memberi dan Pandega menerima. Juga akan menjadi sulit diterima manakala latihan rutin Racana dipolakan seperti latihan Pasukan Penggalang, maksudnya adalah adanya pola dan pendekatan latihan rutin.
Racana disebut sebagai wadah pembinaan karena dalam mensosialisasikan berbagai aspek budaya dan kehidupan didasarkan pada arahan dan peraturan yang telah ditetapkan dalam kerangka upaya pencapaian tujuan Gerakan Pramuka. Upaya tersebut dilakukan melalui proses pencapaian Syarat-syarat Kecakapan Umum (SKU) dan Sya­rat-syarat Kecakapan Khusus (SKK) serta penghayatan kode kehormatan. Oleh karena itu Racana harus memiliki seperangkat program, dan kemantapan kelembagaannya (dalam arti bukan mantap berotonomi, disini kita yang kadang-kadang sulit menempat­kan diri karena berfungsi sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa), namun Racana sebagai wadah pembinaan benar-benar harus melembaga dan berstruktur melalui jalur Kwartir­nya.
Racana sebagai wadah pembinaan, titik tolak dalam proses pendidikannya terle­tak pada aspek pengetahuan dan sikap. Hal ini sesuai dengan pandangan Lord Baden Powell bahwa titik berat pendidikan kepanduan adalah pada pembinaan watak dan kecerdasan yang arahannya ditujukan agar seorang Pandu (Pramuka) dapat mandiri dan mampu menolong orang lain. Aspek pengembangan sikap dalam Racana diarahkan melalui perangkat sosialisasi yang disebut dengan tata adat Racana.
Jadi Racana akan memiliki seperangkat kegiatan yang terprogram, kelembagaan dan tata adat Racana. Ketiga hal tersebut akan menentukan bagaimana bentuk interaksi antar warga Racana, antara warga Racana dengan Pembina Pandega.
Arahan Kegiatan Racana Pandega
Kegiatan Racana Pandega diarahkan pada pembentukan kepribadian yang mandiri, sehingga akan berlangsung proses pemandirian individu. Upaya ini tidak dapat dilepaskan dari perkembangan jiwa Pramuka Pandega. Arahan berikutnya adalah pengembangan sikap dan perilaku bakti (pengabdian). Untuk mencapai kemandirian dan pengabdian Pandega, diperlukan berbagai tahapan kegiatan atau program yang konsis­ten dengan tujuan dan sasaran Gerakan Pramuka serta berbagai kebijakan tentang pembinaan dan pengembangan Pramuka Penegak dan Pandega.
Konsep yang dikenal untuk maksud di atas adalah konsep tri bina, yang meliputi bina diri, bina satuan dan bina masyarakat.
  1. Bina diri, yaitu usaha memperluas dan memperdalam pengetahuan dan keterampilan, serta membina kepribadian yang dilakukan melalui pertemuan rutin, pendidikan dan kegiatan-kegiatan lainnya.
  2. Bina satuan, yaitu upaya meningkatkan kompetensi dalam kepemimpinan dan ma­najemen serta upaya kaderisasi kepemimpinan Gerakan Pramuka. Termasuk dalam bina satuan misalnya membina Siaga atau Penggalang, menjadi pengurus Dewan Racana, anggota Dewan Kerja dan lain-lain.
  3. Bina masyarakat, yaitu upaya meningkatkan kesadaran sosial dan pengabdian agar lebih dapat berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat dan sekaligus meletakkan landasan bagi masa depannya.
Lebih lanjut, dinyatakan bahwa Pramuka Pandega di Racana Gugusdepan yang berpangkalan di perguruan tinggi dibina dan dikembangkan agar menjadi kader Pembina Pramuka. Dengan demikian program dan kegiatan Racana harus diarahkan pada pembinaan dan pembentukan calon-calon Pembina yang terampil, cakap dan tangguh. Oleh karena itu pengelola Racana hendaknya dapat menerapkan konsep tri bina secara proporsional. Karenanya hal yang membedakan Racana Gugusdepan yang berpangkalan di perguruan tinggi adalah tugas pengkaderan Calon Pembina yang secara eksplisit ditekankan pada Racana Gugusdepan yang berpangkalan di perguruan tinggi.
Perkembangan yang Terjadi
Dengan memperhatikan ide dan konsep dasar di atas, maka pertanyaan yang layak diajukan adalah: Sudahkah pelaksanaan kegiatan Pramuka Pandega sesuai dengan kodratnya? Nampaknya kita belum dapat menunjukkan jati diri kita sesuai dengan kodrat (baca: ide dan konsep dasar golongan Pramuka Pandega) yang telah digariskan namun kita baru bisa menyerah pada nasib, sehingga kita hanya bisa merenungi nasib kita. Saya berani mengatakan demikian karena kenyataannya pada umumnya Racana belum mampu berbuat banyak terhadap upaya pengkaderan Pembina Pramuka. Sehing­ga masalah kekurangan jumlah dan kualitas Pembina Pramuka belum dapat teratasi, secara nasional kekurangan Pembina dan masalah kualitas Pembina Pramuka yang ada sekarang ini telah menjadi masalah serius yang harus segera kita pecahkan bersama.
Adapun yang saya maksudkan dengan konotasi nasib adalah suatu kenyataan bahwa sebagian besar racana terjebak dengan sistem lembaga kemahasiswaan yang ada. Ada semacam kesulitan mendudukkan kelembagaan Racana berdampingan dengan lembaga kemahasiswaan. Inilah nasib pertama yang harus kita jalani. Akibatnya kita harus menjalani nasib kedua, yaitu bahwa para Pramuka Pandega terjebak dengan kegiatannya sendiri, baik itu yang diprogramkan oleh Racana/Gugusdepan maupun adanya paket kegiatan dari rekorat. Karena nasib itulah, maka kita seakan lupa dengan kodrat golongan Pandega yaitu suatu tahapan usia yang harus siap menjadi calon Pembina Pramuka dan karena program-program Racana sesuai kodratnya harus mengarahkan pada program bina satuan.
Kenyataannya berapa Racana yang telah memprogramkan bina satuan secara eksplisit dan kontinyu? Artinya program bina satuan tidak hanya melekat pada even ulang Gugusdepan saja, melainkan telah menjadi suatu keharusan dalam keseharian kehidupan Racana Pandega.
Mengapa bisa demikian hanya nasib kita? Tadi telah saya ungkapkan faktor eksternal, yaitu sistem dan dinamika lembaga kemahasiswaan. Sebenarnya faktor eksternal itu bisa kita eliminir apabila faktor internal kita kuat, justru disinilah saya melihat kelemahannya. Beberapa kelemahan faktor internal yang dapat saya ungkapkan adalah:
  1. Kurangnya pemahaman Pembina Pandega terhadap konsep Pramuka Pandega. Mengapa ini bisa terjadi, kita tidak bisa menyalahkan pada para Pembina, lagi-lagi nasiblah yang bisa kita ratapi. Mengapa? Baiklah kita tengok program pencetakan Pembina Pramuka Pandega yang dilakukan melalui Kursus Mahir Dasar (KMD) dan Kursus Mahir Lanjutan (KML). Kita kaji kurikulum dan pelaksanaan secara nasional KMD dan KML, adakah materi yang berkaitan dengan kelembagaan, program dan arahan kegiatan, serta tata adat Racana disampaikan dengan semestinya? Tidak, bukan? Hal itu akan lebih menyedihkan lagi apabila kodrat yang dimaksud kita gunakan tolok ukur Rovering. Sehingga sebenarnya tidak pada tempatnya apabila kita terlalu banyak menuntut pada Kakak Pembina karena memang bekal yang dimiliki, secara formal, tidak sesuai dengan kodratnya.
  2. Sebagian aktivis Racana yang diduga kurang memiliki pemahaman pendidikan kepramukaan secara komprehensif disebabkan (a) tidak adanya kontinyuitas pendidikan kepramukaan yang dialami aktivis itu, dan (b) lemahnya sub faktor Pembina sehingga menyebabkan kurangnya pemahaman pada diri Pramuka Pandega.
Kedua faktor inilah yang nampaknya membuat Racana akan selalu sulit berkembang. Sebetapapun hebatnya sebuah Racana dapat mencetak pemikir dan praktisi kepramukaan namun apabila tidak diikuti kedekatan pemahaman dan kemampuan Pembina Pramuka dengan kodratnya adalah suatu yang naif, karena peserta didik (Pandega) selalu datang pergi sementara itu yang relatif tetap di satuan adalah Pembinanya. Sehingga mestinya sosialisasi kelembagaan, program dan arahan kegiatan serta tata adat Racana harus diberikan sejak KMD dan diperdalam pada KML.
Bina Satuan Terpadu
Mau tidak mau agar kita tidak dikatakan menyalahi kodrat, maka langkah yang paling strategis adalah merealisasikan program bina satuan secara eksplisit dan kontinyu. Memang saat ini ada sebagian kecil Pramuka Pandega yang tidak mau menging­kari kodratnya, yaitu dengan cara melakukan bina satuan di Perindukan, Pasukan atau Ambalan. Sayang hal ini belum dilakukan secara terprogram dan melembaga sehingga sulit dilakukan kontrol aktivitas dan kualitas.
Adapun yang dimaksud bina satuan terprogram adalah bahwa bina satuan dican­tumkan ke dalam salah satu butir program kerja tahunan pada Racana dan secara eksplisit ada tindak lanjutnya. Sedangkan yang dimaksudkan melembaga yaitu adanya bentuk ikatan kerjasama antara Racana/Gugusdepan dengan Gugusdepan yang ditempati sebagai ajang bina satuan. Salah satu butir ikatan kerjasama yang diusulkan adalah kesediaan Gugusdepan lokasi bina satuan untuk menerima Pramuka Pandega sebagai Pembantu Pembina Satuan yang akan berlatih dan mengembangkan kemampuan dirinya di satuan tersebut, keberadaan Pramuka Pandega dibatasi waktu untuk satu tahun pro­gram berikutnya. Dengan kedudukan sebagai Pembantu Pembina Satuan saya pikir tidak akan berpengaruh terhadap ketentuan batasan waktu bina satuan, karena bagaima­napun juga Pembina Satuan merupakan orang pertama di satuan itu.
Apabila program bina satuan ini berjalan, maka latihan rutin di Racana tidak akan terpola seperti latihan Pasukan Penggalang/Ambalan Penegak. Karena latihan rutin akan berubah fungsi sebagai ajang bertukar pikiran terhadap pelaksanaan bina satuan, pada kesempatan inilah akan berlangsung proses pembelajaran yang tidak kita duga dampaknya. Saya yakin bahwa pola pendekatan  seperti itu akan mampu menggarap realitas permasalahan pendidikan kepramukaan, dan karena itu, secara metodologis bertumpu di atas prinsip-prinsip aksi dan refleksi total, yakni prinsip bertindak untuk memperbaiki keadaan. Oleh Paulo Freire (1986: 35-47) hal tersebut dikatakan makna dan hakekat praxis, yaitu :
praxis-paulo-freore
Dalam bahasa kita, praxis dapat kita sebut dengan “manunggal karsa, kata dan karya” karena manusia pada dasarnya adalah kesatuan dari fungsi berpikir, berbicara dan berbuat. Ketiga aspek itu tidak dapat dipisahkan, jika dipisahkan maka akan ada dua kutub ekstrem yaitu pendewaan berlebihan pada kata (sebagaimana juga pendewaan berlebihan terhadap konsep dasar dan regulasi Kwarnas/Dikti tanpa diikuti aksi nyata) atau pendewaan berlebihan pada kerja.
Menyimak strategi pembelajaran yang demikian maka proses pendidikan kepra­mukaan di Racana (baca : melalui program bina satuan) setiap waktu dalam prosesnya akan merangsang ke arah diambilnya suatu tindakan (praktek di satuan), kemudian tindakan itu direfleksikan kembali (melalui pertemuan/latihan rutin di Racana), dan refleksi itu diambil tindakan baru yang lebih baik. Demikian seterusnya, sehingga proses pendidikannya merupakan suatu daur bertindak dan berpikir yang berlangsung terus menerus.
Dengan pendekatan bina satuan tersebut maka akan dapat menghilangkan kebo­sanan Pandega dalam mengikuti latihan rutin. Lantas pasti akan dipertanyakan: dimana keberadaan latihan rutin bagi Pramuka Pandega? Menurut saya, latihan rutin di Racana sebagaimana bentuk latihan Pasukan dan Ambalan sudah tidak ada.
Gantinya kita gunakan pendekatan pengalaman berstrukturnya Pfeiffer dan Jones (1986: 151-158), yaitu melalui tahapan mengalami, mengungkapkan, mengolah, menyimpulkan dan menerapkan. Berdasarkan pendekatan pembelajaran pengalaman berstruktur inilah maka sebenarnya seluruh kegiatan Racana baik yang terprogram maupun insidental adalah merupakan media latihan rutin bagi Pramuka Pandega. Hanya masalahnya bagaimana kita secara sadar dapat mengolah seluruh aktivitas sehingga mampu membelajarkan Pramuka Pandega.
Selanjutnya, agar program bina satuan ini dapat ditindaklanjuti maka diperlukan adanya (1) gerakan penyadaran diri terhadap kodratnya; dan (2) langkah-langkah terpa­du antar masing-masing Gugusdepan yang berpangkalan di perguruan tinggi dengan Kwartirnya. Hal kedua inilah yang saya sebut Bina Satuan Terpadu.
Adapun maksud Bina Satuan Terpadu adalah program bina satuan yang melibat­kan seluruh/beberapa Gugusdepan yang berpangkalan di perguruan tinggi dengan keter­paduan dalam aspek (1) pembagian lokasi bina satuan, dimana dalam hal ini di bawah koordinasi Kwartir Cabang/Kwartir Ranting; (2) secara berkala (berkala tengah tahunan) mengadakan pertemuan evaluasi pelaksanaan program bina satuan; dan (3) menda­tangkan Pelatih Pembina Pramuka dalam pertemuan evaluasi bina satuan di Racana masing-masing atau secara gabungan dengan bimbingan/bantuan Korps Pelatih Cabang.
Kiranya dengan pendekatan praxis dan keterpaduan bina satuan ini kita dapat sedikit demi sedikit mengurai benang kusut yang melilit Gerakan Pramuka. Sekaligus merupakan tindakan nyata bakti Pramuka Pandega dalam usaha ikut serta mengembangkan sumber daya manusia dalam Gerakan Pramuka. Be Prepared!
Fauzi Eko Pranyono adalah mantan Pemangku Adat dan mantan Ketua Racana WR Supratman Gudep Yogyakarta 007

Kegiatan dan Pesta Pandega

Kegiatan dan Pesta Pramuka Pandega tidak terlalu jauh dengan Kegiatan Penegak, namun kegiatan Pramuka Pandega banyak yang dirancang oleh gugusdepan pangkalan masing - masing bekerja sama dengan beberapa pihak. Misalnya Kegiatan Temu Karya Nasional UGM yang diselenggarakan baru - baru ini merupakan kegiatan racana dalam rangka memperingati hari jadi Pramuka UGM, Namun mereka bekerja sama dengan pihak Kwarcab, Kwarda dan Kwarnas. Dan banyak lagi kegiatan Pramuka Pandega yang dilakukan oleh pihak gugusdepan, namun pada umunya yang sering diselenggarakan pihak kwartir yaitu :


  1. Raimuna adalah pertemuan Pramuka Penegak dan Pandega dalam bentuk perkemahan besar yang diselenggarakan oleh kwartir Gerakan Pramuka, seperti Raimuna Ranting, Raimuna Cabang, Raimuna Daerah, Raimuna Nasional.
  2. Gladian Pimpinan Satuan adalah kegiatan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega bagi Pemimpin Sangga Utama, Pemimpin Sangga, dan Wakil Pemimpin Sangga dan pengurus Dewan Ambalan/Racana, yang bertujuan memberikan pengetahuan di bidang manajerial dan kepemimpinan. Dianpinsat diselenggarakan oleh gugusdepan, kwartir ranting atau kwartir cabang. Kwartir daerah dan Kwartir Nasional dapat menyelenggarakan Dianpinsat bila dipandang perlu.
  3. Perkemahan adalah pertemuan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega yang diselenggarakan secara reguler untuk mengevaluasi hasil latihan di gugusdepan dalam satu periode, seperti Perkemahan Saptu Minggu (Persami), Perkemahan Jum’at Saptu Minggu (Perjusami), perkemahan hari libur, dan sejenisnya.
  4. Perkemahan Wirakarya (PW) adalah pertemuan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega berbentuk perkemahan besar, dalam rangka mengadakan integrasi dengan masyarakat dan ikut serta dalam kegiatan pembangunan masyarakat. PW diselenggarakan oleh semua jajaran kwartir secara reguler, khusus untuk PW Nas, diselenggarakan apabila dipandang perlu.
  5. Perkemahan Bakti (Perti), adalah pertemuan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega berbentuk perkemahan besar, dalam rangka mengaplikasikan pengetahuan dan pengalamannya selama mengadakan pembinaan, baik di gugusdepan maupun di Satuan karya Pramuka (Saka) dalam bentuk bakti kepada masyarakat.
  6. Perkemahan Antar (Peran) Saka adalah Kegiatan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega yang menjadi anggota Satuan Karya Pramuka (Saka), berbentuk perkemahan besar, yang diselenggarakan oleh kwartir Gerakan Pramuka. Saat ini Gerakan Pramuka memiliki tujuh Saka. Peran Saka diselenggarakan apabila diikuti minimal oleh dua Satuan Karya Pramuka.
  7. Pengembaraan adalah pertemuan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega berbentuk penjelajahan, dalam rangka mengaplikasikan pengetahuan tentang ilmu medan, peta, kompas dan survival. 
  8. Latihan Pengembangan Kepemimpinan adalah pertemuan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega untuk menanamkan dan mengembangkan jiwa kepemimpinan bagi generasi muda agar dapat ikut serta dalam mengelola kwartir dan diharapkan di kemudian hari mampu menduduki posisi pimpinan dalam Gerakan Pramuka. 
  9. Latihan Pengelola Dewan Kerja adalah pertemuan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega untuk memberikan pengetahuan dan pengalaman mengenai manajemen Dewan Kerja, sehingga para anggota Dewan Kerja dapat mengelola dewan kerjanya secara efektif dan efisien.
  10. Kursus Instruktur Muda adalah pertemuan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega pengembangan potensi Pramuka, baik sebagai Pribadi, kelompok maupun organisasi untuk mensukseskan pelaksanaan upaya Pengembangan Sumber Daya Manusia, Pengentasan Kemiskinan dan Penanggulangan Bencana.
  11. Penataran, Seminar, dan Lokakarya adalah pertemuan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega untuk mengkaji suatu permasalahan dan merumuskan hasil kajian serta memecahkan masalah secara bersama, sebagai bahan masukan bagi perkembangan Gerakan Pramuka.
  12. Sidang Paripurna adalah pertemuan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega untuk menyusun program kerja bagi Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega dalam satu tahun program, dan akan dijadikan bahan dalam Rapat Kerja Kwartir.
  13. Musyawarah Pramuka Penegak dan Pandega Puteri dan Putera (Musppanitera) adalah pertemuan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega untuk menyusun perencanaan pembinaan bagi Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega di wilayah kwartir dalam satu masa bakti kwartir/dewan kerja dan akan dijadikan bahan pada musyawarah kwartirnya.
Sekarang kita tinggal menantikan, kapan Gugusdepan 18.805 - 18.806 dapat menyelenggarakan kegiatan tersebut???
Mari kita dukung Dewan Racana untuk melaksanakan proogramnya dan mari kita sukseskan kegiatan yang telah diputuskan dalam Musyawarah Racana 2011.


Penulis : Ichan Erkate

Sistem Among


1. Pendidikan dalam Gerakan Pramuka ditinjau dari hubungan antara pembina dengan anggota muda dan anggota dewasa muda menggunakan sistem among.
2. Sistem Among berarti mendidik anggota Gerakan Pramuka menjadi insan merdeka jasmani, rokhani, dan pikirannya, disertai rasa tanggungjawab dan kesadaran akan pentingnya bermitra dengan orang lain
3. Sistem among mewajibkan anggota dewasa Gerakan Pramuka melaksanakan prinsip-prinsip kepemimpinan sebagai berikut:
a. Ing ngarso sung tulodo maksudnya di depan menjadi teladan;
b. Ing madyo mangun karso maksudnya di tengah membangun kemauan;
c. Tut wuri handayani maksudnya dari belakang memberi dorongan dan pengaruh yang baik ke arah kemandirian.
4. Dalam melaksanakan tugasnya anggota dewasa wajib bersikap dan berperilaku berdasarkan:
a. Cinta kasih, kejujuran, keadilan, kepatutan, kesederhanaan, kesanggupan berkorban dan rasa kesetiakawanan sosial.
b. Disiplin disertai inisiatif dan tanggungjawab terhadap diri sendiri, sesama manusia, negara dan bangsa, alam dan lingkungan hidup, serta bertanggung-jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa.
5. Hubungan anggota dewasa dengan anggota muda dan anggota dewasa muda merupakan hubungan khas, yaitu setiap anggota dewasa wajib memperhatikan perkembangan anggota muda dan anggota dewasa muda secara pribadi agar perhatian terhadap pembinaannya dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan kepramukaan.
6. Anggota Dewasa berusaha secara bertahap menyerahkan pimpinan kegiatan sebanyak mungkin kepada anggota dewasa muda, sedangkan anggota dewasa secara kemitraan memberi semangat, dorongan dan pengaruh yang baik.

Presiden Minta Semua Pihak Bantu Gudep



Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) (kiri) didampingi Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono. ANTARA/Ampelsa
Kayu Agung – Sebanyak 17.000 pramuka penggalang mengikuti aneka kegiatan di Bumi Perkemahan Dana Teluk Gelam, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. “Selama ini saya ajak teman-teman di sekolah menjadi anggota pramuka agar tidak ikut-ikutan menggunakan narkoba,” kata Tarsisius J Wihage, peserta dari Kwartir Cabang Bogen Digul, Kwartir Daerah Papua kemarin, usai mengikuti kegiatan diskusi bahaya narkoba.
Tarsisius menjelaskan tidak semua daerah di Papua dipenuhi pengguna narkoba. Masih banyak, katanya, remaja dan pemuda yang baik. Siswa kelas tiga SMP ini mengaku aktivitasnya di pramuka makin menguatkan kepercayaan diri, kemandirian dan memperbanyak teman. Pendapat Tarsisius dibenarkan peserta Jambore Nasional lain yang diikuti penggalang (pramuka berusia 11-15 tahun) dari seluruh Tanah Air.
Arnoldus Douw dari Kwartir Cabang Dogiyai, Nabire, Papua mengaku mendapat 50 teman selama tiga hari di lokasi Jambore yang berlangsung 2-9 Juli 2011. Arnoldus yang menjadi Sekretaris Regu Cenderawasih ini, bercita-cita masuk Institut Pemerintahan Dalam Negeri untuk menjadi Camat. “Seleksi mengikuti Jamnas ini sangat berat, tapi saya menikmati,” kata Angkin Anindita, peserta dari Jawa Tengah. Dia senang mendapat teman dan keterampilan baru.
Memang, Jambore yang dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Sabtu lalu, menyajikan 57 mata kegiatan. “Kami ajak adik-adik memahami isu-isu terkini,” kata Ketua Kwartir Daerah Pramuka Sumatera Selatan Abdul Shobur selaku Ketua Panitia Pelaksana Jambore Nasional.
Dia menyebut kegiatan go green – global development village seperti diskusi tentang bahaya narkoba, praktik daur ulang sampah, diskusi pemanasan global dan perubahan iklim. Termasuk pengenalan energi terbarukan seperti biogas, bioetanol, energi surya, mikrohidro dan penjernihan air. Kegiatan lain adalah teknologi dan industri, scouting skill, petualangan dan wisata.
“Jadikan Gerakan Pramuka sebagai pelindung kaum muda dari ancaman aksi kekerasan, radikalisme, terorisme dan penyalahgunaan narkoba,” kata Presiden Yudhoyono ketika membuka Jambore Nasional. Untuk itu, Presiden meminta para menteri, pemerintah daerah, dunia usaha dan semua pihak membantu kegiatan pramuka di kwartir dan gugus depan, baik yang berbasis di sekolah maupun di kompleks perumahan.
Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Azrul Azwar memaparkan fokus revitalisasi di gugus depan (Gudep) yang berjumlah 270.000 buah. Ada 6 kegiatan pokok yang sedang dan akan terus dilaksanakan untuk pembenahan Gudep. Pertama, memantapkan organisasi Gudep melalui proses akreditasi. Kedua, meningkatkan kompetensi pembina melalui proses sertifikasi. Ketiga, melengkapkan fasilitas pendidikan melalui program bantuan Gugusdepan Kit.
Keempat untuk Gudep berbasis Sekolah, menggalang keterlibatan pelbagai pihak terkait melalui pemberdayaan Komite Sekolah. Kelima, membantu penyediaan biaya operasional Gudep melalui proses pengintegrasian dengan dana BOS. “Keenam memperbaharui kurikulum dan metoda pendidikan, melalui proses penyesuaian dengan pelbagai perkembangan mutakhir,” kata Azrul.
Menurut Azrul, Jamnas 2001 di Ogan Komering Ilir ini juga diikuti 80 pramuka dari Malaysia dan Singapura. Mereka berbaur dengan adik-adik pramuka Indonesia yang berbeda etnis, agama, daerah dan kelas sosial.Mereka mempraktikkan arti kemandirian, gotong royong, kejujuran dan
berlatih keterampilan. Mereka juga hidup di perkemahan dengan kondisi air yang minim, panas dan kesulitan MCK. “Sikap toleransi dan persaudaraan yang menjadi pijakan bagi multikulturalisme diharapkan meresap di kalangan peserta,” katanya. (Untung W)

GERAKAN PRAMUKA MEMBANGUN KARAKTER BANGSA, TIDAK HARUS MENEPUK DADA


Dengan Kekompakan dan Kerjasama Yang Baik Akan Memudahkan Tercapainya Tujuan Bersama
Tidak seperti institusi atau kelompok komunitas yang ada ditanah air ini  dalam setiap aktivitasnya, nyaris mengedepankan unsur cerimonial, gebyar unjuk kekuatan (show offorce) dibandingkan dari hakekat momentum yang digelar. Publisitas yang wah, instan serta vulgar. Usai aktvitas tenggelam dan terlupakan untuk pertama dan terahir kali tiada kesinambungan Lenyap ditelan masa, tiada kabar berita, tinggal papan nama.Lantaran masing-masing gerakan mengedepankan kepentingan pribadi dan golongan, usai kepetingan itu dinikmati usai pula gerakan tersebut. Tidaklah halnya dengan Gerakan Pramuka (GP) yang berpijak dari sejarah kebangkitan bangsa yang memadukan rasa nasionalisme dan patriotisme agar tetap terjaga negara kesatuan Republik Indonesia.
GP yang secara historis diawali melalui keputusan Presiden RI Soekarno tanggal 5 April 1961 nomor 121 tentang panitia pembentukan GP, dimana sebelumnya tanggal 9 Maret 1961 Presiden  mengumpulkan para tokoh kepanduan Indonesia dan memerintahkan agar organisasi kepanduan diperbaharui disesuiakan dengan perkembangan dan pertumbuhan bangsa serta masyarakat. Karena ditenggarai ratusan jumlah organisasi yang mengatas namakan kepanduan Indonesia telah menyimpang dari tujuan semula mengusung pendidikan martabat moral pemuda justru bermisikan kepartaian, yang dapat memicu terpecah belahnya kesatuan dan persatuan bangsa. Karenya organisasi kepanduan harus dirubah dan dilebur kedalam organisasi yang diberi nama Praja Muda Karana disingkat Pramuka.
Merujuk pada pertemuan tersebut lalu ditetapkan dengan keputusan Preiden RI Nomor 238 tahun 1961 dengan lampiran anggaran dasar Pramuka serta susunan pengurus tingkat nasional disebut Majelis Pimpinan Nasional (Mapinas), yang didalamnya terdapat Kwartir Nasional (Kwarnas), Kwartir Nasional harian (Kwarnari). Selanjutnya tanggal 14 Agutus 1961 Mapinas dilantik oleh Presiden RI .Dihalaman istana negara  diselenggarakan apel besar, kemudian dilanjutkan pawai keliling Jakarta. Ketua Kwarnas  GP yang pertama Sri Sultan Hamengku Buwono IX menerima panji Gerakan Pendidikan Kepanduan Nasional Indonesia dari Presiden dan diteruskan kepada Gerakan Pramuka..
Hari pelantikan tanggal 14 Agutus 1961 inilah lalu ditetapkan sebagai lahirnya hari GP dan diperingati setiap tahun sampai sekarang. GP didirikan sebagai wadah pembinaan generasi muda yang bertujuan kearah pembentukan dan peningkatan kualitas manusia, berkperibadian, cerdas serta bertanggungjawab pada kelangusungan pembangunan bangsa. Pengkondisian ini termaktub dalam anggaran GP seperti berikut ”.
”GP mendidik dan membina anak-anak dan pemuda Indonesia dengan tujuan agar mereka menjadi: 1. Manusia berkepribadian, berwatak luhur yang kuat mental, tinggi, moral, beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tinggi kecerdasan mutu ketrampilannya. Kuat dan sehat jasmaninya. 2. Warga negara Republik Indonesia yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada negara kesatuan Republik Indonesia, serta menjadi anggota mayarakat yang baik dan berguna, yang dapat membangun dirinya sendiri, serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa dan negara.”
Kandungan makna kat-kata  kewajiban terhadap Tuhan, mengamalkan Pancasila, membangun masyarakat. Merupakan pengewejantaham paduan nilai religius dan nasionalisme (kebangsaan), yang merefleksikan harapan pada kehidupan layak, dunia dan akhirat dari keseimbangan prilakunya yang produktif dan positif.
Dalam konteks ini terjadinya proses pembentukan karakter  yang berorientasi kepada kepentingan bangsa dan negara serta kemaslahatan ummat, menyingkirkan seluas-luasnya kepentingan pribadi dan golongan.
Ditengan kegalauan kebrutalan tauran pelajar, mahasiwa, serangan terorisme, narkoba, kriminal, korupsi tiada kata henti tertayang dengan pelakunya diawal difigurkan justru menjadi umpatan, vulgarisme sexual menjadi tontonan yang menggiurkan, penyalahgunaan dan wewenang serta penyimpanga prilaku lainnya. Menjadi hiasan media elektronik dan cetak dan buah bibir masyarakat, seakan bunda pertiwi ini dirundung malang, dan mestapa yang tiada akhir dalam kata gerah : Kerinduan kenyamanan ” tak kunjung datang. Lalu gonjang ganjing reformasi mandeg, reformasi tak selancar lidah menyebutnya….. Semua orang lalu eakan membalik sejarah reformai menjadi biangnya, menjadi ajang polmik, dibedah dan ditelusuri mencari pengakuan kebenaran atas kesalahan dan kealpaan kembali kepada Ruhnya Pancasila yang selama ini dibenamkan sebagai suatu simbolsiasi belaka Adalah solusi yang terbaik untuk menyelamatkan bangsa dari dekadensi kebiadaban moral yang kini luntur hampir disemua lini unsur dan strata , komunitas masyarakat. Bahkan ada tudingan karena dilenyapkannya mata pelajaran budi perkerti disekolah. GP dengan pola pendidikannya tidak pernah ikut latah, apalagi demonstratif dan atraktif. Tanpa ribut-ribut tetap eksis , pembentukan karakter bangsa yang bermartabat dan bermoral secara terstruktur dan sistimatis apa yang digaungkan oleh banyak kalangan realitanya konsep tersebut dilakukan oleh GP.
Diawali dalam proses pemilahan tumbuh kembang manusia dilakukan secara dini berjenjang dan berkesinambungan , mulai dari golongan siaga usia 6 – 10 tahun,  golongan penggalang 11-15 tahun, golongan penegak 16- 21 tahun serta pandega dan racana 21 – 25 tahun. Metode pendidikan kepramukaan diaplikasikan dalam makna ” Belajar mengajar yang interaktif dan progresif, dengan muatannya yang dilaksanakan dialam terbuka, dalam permainan yang mengandung pendidikan, menarik dan menantang, dalam kelompok satuan terpisah bersipat kompetetif dengan menerapkan sisitem tanda kecakapan.
Tahapan kematangan kemampuan sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan jasmani kearah keterampilan yang profesional dicapai dan ditempuh melalui syarat-syarat tanda kecakapan (TKU) umum dan syarat-syarat kecakapan khusus (SKK) dengan refleksi melalui tanda-tanda kecakapan khusus (TKK) dibidang soial budaya agama dan teknologi
Bagi peserta didik yang setara usia pemuda dan remaja ( penegak,pandega , racana) menjurus pada kajian dan pendalaman yang diarahkan kepada pengembangan minat, potensi dan bakat yang dimiliki melalui satuan karya (Saka). Seperti pengembangan minat bidang kelautan/maritim (Saka Bahari), bidang pertanaman dan pertanian (Saka Taruna Bumi), Bidang  penerbangan/Udara (Saka Dirgantara), Bidang kehutanan (Saka Wana Bakti), Bidang Kamtibmas (Saka Bayangkara), Bidang Kesehatan (Saka Bakti Husada), Bidang  Kependudukan dan Keluarga Berencana (Saka Kencana) serta bidang Hankam (Saka Wira Kartika).
Proses pembelajarannya dan pembinaan diarahkan dengan metode belajar sambil mengerjakan. (learning by doing), belajar sambil mengajar (learning by teaching), belajar sambil mendapatkan penghasilan (doing to earn), hidup untuk berbakti dan mengabdi (living to serve), usaha menghasilkan untuk kebutuhan hidup (earning to live). Orientasi prilaku yang diharapkan  merupakan ajang penggodokan wadah/kawah candradimuka dalam enam unsur ketrampilan (personal skill) meliputi;
Pertama Keterampilan Spritual ’ adalah implementansi dari penempatan diri selaku hamba yang bertuhan, kepada perbuatan yang dilandasi norma religius. Sebagai mahluk ciptaan Tuhan dalam pengimbangan pemahaman hak dan kewajiban sesuai dengan agama dan kepercayaan pemeluknya. Serta merefleksikan kehidupannya sebaga warga negara dengan idiologi Pancasila, dan sebagai anggota dengan Satya dan Darma Pramuka.
Kedua Keterampilan Emosional ” Adalah keterampilan yang senantiasa dimiliki oleh anggota dalam pengendalian emosi menjadi sikap mentalitas yang berimbang, sehingga menjadi konsekwen yang terukur saat berbenturan dengan masalah tanpa kehilangan jati diri. Sebagai seorang mahluk yang bersikap arif dan bijak pada nilai-nilai kemanusiaan ketika mengambil suatu tindakan mengedepankan moralitas dan peradaban manusia lainnya.
Ketiga Keterampilan Manajerial (managerial skill) ” Dengan keterampilan manajerial diharapkan pengelolaan kwartir dalam keorganisasian menjadi inti persoalan, dalam menganalisa visi dan misi mengaktualisaikan sikap-sikap kepemimpinan bagi seorang pengambil keputusan/kebijakan yang sukses menerapkan prinsip-prinsip manajemen.
Keempat Keterampilan fisik ” Keterampilan fisik menjadi posisi yang amat penting dalam sentuhann kebugaran yang prima menjadi kata kunci dalam penyelenggaraan pendidikan, tanpa fisik yang prima kesempurnaan dalam menjalankan pengajaran menjadi halangan. Khususnya muatan yang menuntut kebugaran, seperti halnya dalam alam terbuka, penjelajahan, olah raga dan yang lannya. Dengan fisik yang kuat menjadi dukungan yang signifikan dalam mencapai kesuksesan menterjemahkan muatan materi
Kelima Keterampilan  mengenai alam ” Keterampilan mengenai alam merupakan implikasi  logis.dalam menjawab tantangan penempatan pengetahuan dalam membaca tanda-tanda alam yang dapat dikenali.Memahami hakekat alam bagi peruntukkan hajat manusia, ekosistem fungsi alam, menjadi inspirasi dalam mengkondisikan diri pada suatu tindakan yang akurat bila tanda-tanda itu muncul dapat menjadi malapetaka.Namun dapat teratasi ketika penyelenggaraan suatu aktifitas.seperti pengenalan dengan kehadiran binatang, burung-burung laut yang berterbangan menuju daratan sebagai pertanda akan datangnya cuaca buruk. Begitu juga sebaliknya jika matahari terbit dengan pantulan sinar warna kemerahan yang terang mempunyai makna sebagai pertanda cuaca baik. Selain mensyukuri nikmat keindahan alam dengan segala isinya sebagai ciptahan Tuhan. Dengan demikan dapat mengantisipasi tanda alam itu, seperti sedia payung sebelum hujan, dapat disikapi adanya semut beriring yang tergesa-gesa masuk kedalam lubang atau sangakarnya sebagai pertanda akan datanganya hujan.
Keenam Keterampilan Sosial : Keterampilan yang harus dimiliki setiap anggota pramuka mengakar pada pembentukan kepedulian sosial (socius/berkawan), sebagai suatu proses jalinan interaksi mahluk soial manusia dengan lngkungan hidupnya (human relation).ketiika menjawab persoalan-persoalan hidup manusia yang tak luput dari ketergantungan dan saling membutuhkan , menghargai,membagi kasih, wujud dari kodrat tolong menolong pada konteks ,meringankan beban orang lain.
Interaksi sosial ini diaplikasikan dalam proses terjadinya bencana alam dengan penydiaan dapur umum, pertolongan gawat darurat pada korban, kemah bakti, pelestarian alam/.penghiajauan wira karya/pembuatan fasilitas jalan, pembuatan jamban keluarga dan lain lagi.Dengan memaknai dinamika interaksi sosial yang lansgung dilihat dan dialami, baik sebagai infidvidu maupun sebagai mahluk sosial akan melestari sebagai karakter peduli sesama manusia.
Pembinaan yang menyerasikan antara perbuatan dan kata (moral), antara ketinggian ketajaman akal antara perbuatan tanggungjawab bagi diri sendiri dan bagi negara, menyeimbangkan antara kebutuhan jasmani dan batiniah termaktub dalam kode kehormatan yang dsiebut dengan Tri satya :
” Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh, menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan mengamalkan Pancasla, menolong sesama hidup dan ikut serta membangun masyarakat,menepati Dasa Darma. ”
Melalui jenjang pembinaan GP yang berkesinambungan dan berkelanjutan  menjadikan anggotanya sebagai warga negera, tidak pesimis menghadapi tantangan zaman (reformasi yang keluar dari peruntukkan yang dicanangkan ).  Sebab menghadapi dinamika  kehidupan sebagai suatu tantangan bukan hambatan, bahkan memberikan suatu peluang dan motivasi  kereatifitas, akomodatif, aspiratif , agitatif tetapi tidak demonstratif dan vulgar dalam bertindak, ditandai produktifitas aktivitas yang berorientasi pada kemaslahatan orang banyak (baca bangsa dan tanah air).menjadi pelopor bukan pengekor.
Dengan demkian  pendidikan karakter bangsa dengan pola GP akan muncul manusia Indonesia pada wawasan peningkatan pengetahuan (Kognetif)  rasa kepedalaman kepedulian (afektif) dan sikap kepemimpinan yang arif dan bijaksana (Behavioral psikomotorik). Dan GP sudah melakukannya pencitraan kepemimpinan dimasa datang, tanpa harus digembar gemborkan dan menepuk dada mngharap balas jasa dan kalung bunga …….

5 ELANG, SIAP RILIS DI BIOSKOP 25 AGUSTUS


Meraka Tanamkan Semangat dan Kekompakan Dalam Persahabatan
Setelah sukses dengan film keluarga Garuda di Dadaku yang meraup sekitar 1,3 juta penonton pada 2009 lalu, SBO Films tahun ini menggandeng berbagai pihak dan siap luncurkan film keluarga yang akan mengisi libur lebaran dan akhir tahun. 5 ELANG yang siap rilisbioskop pada 25 Agustus untukmengisi libur Lebaran, berkisah tentang petualangan dan persahabatan dibintangi oleh para pemain cilik Christoffer Nelwan, Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan, Teuku Rizky Muhammad, Bastian Bintang Simbolon dan Monica Sayangbati. Kelimanya adalah wajah‐wajah baru dalam perfilman, namun memiliki latar pengalaman dalam drama musikal.
“SBO Films memang memiliki perhatian dan komitmen tentang film keluarga. Kami senang karena tahun ini bisa merilis 2 film keluarga sekaligus dan halini dapat terjadi karena beberapa pihak ternyata memiliki perhatian dan komitmen yang sama seperti KG Productions, Indika, dan Lynx Films. Selain itu, khusus untuk film 5 ELANG karena latar belakangnya tentang Pramuka, pihak Kwartir Nasional Pramuka juga turut serta terlibat aktif dalam film ini,” jelas Shanty Harmayn selaku produser kedua film ini. “Ini adalah pengalaman pertama terjun dalam perfilman bagi KG Productions. Kami ikut serta dalam kedua proyek ini, baik 5 ELANG maupun Sekuel GARUDA DI DADAKU, karena memiliki kesamaan visi dalam hal menyuguhkan film keluarga berkualitas denganpesan‐pesan positif bagi penonton, terutama anak‐anak,” tambah Indra Yudhistira selaku salah satu produser eksekutif. Sedangkan bagi Azrul Azwar selaku ketua Kwartir Nasional Pramuka dan juga salah seorang produser eksekutif dalam film 5 ELANG, film petualangan yang menghibur dan berkualitas serta menyampaikan pesan‐pesan positif bagianak‐anak, apalagi dengan latar Pramuka, sudah sepantasnya mendapatkan dukungan penuh dari pihaknya.
Berkebalikan dengan berbagai pihak yang banyak digandeng dalam hal memproduksi film, untuk penyutradaraan, tugas ini diserahkan ke tangan satu orang: Rudi Soedjarwo. “Ini adalah kesempatan yang besar sekaligus tantangan yang besar juga. Bekerja dengan rumah produksi yang berkualitas dan skenario apik yang keduanya ditulis Salman Aristo adalah kesempatan besar. Diminta menyutradarai 2 film sekaligus yang akan rilis dalam jangka waktu 6 bulan antar film tentunya tantangan dalam hal produksi yang pastinya berjalan hampir berbarengan. Namun ini baru pertama kalinya saya menyutradarai film yang pemainnya anak‐anak dan itu adalah tantangan terbesarnya. Ketika sudah dijalani lewat film pertama yaitu 5 ELANG yang shooting pada April hingga awal Mei lalu, ternyata sangat mengasyikkan. Parapemain anakini sangat cerdas dan berbakat meskipun bagi kebanyakan dari mereka ini baru pertama kalinya main film. Kami menjalaninya dengan enak, kadang saya jadi teman, orang tua, bercanda tapi juga harus bisa tegas pada waktu‐waktu dan hal‐hal tertentu. Dan saya kagum karena meskipun anak‐anak, mereka mampu profesional. Selama proses shooting, saya banyak belajar juga darimereka,” jelas Rudi. “Dari awal saya yakinRudi, sebagai sutradara yang punya kualitas baik, lewat fasilitasi dengan nilai produksi yang baik, bisa menjawab tantangan ini dan paling tidak, hal itu sudah terjawab lewat 5 ELANG yang sekarang tinggal proses paska‐produksi.

Monumen Pramuka Sedunia Bakal Dibangun di Lebak Harjo



Harijadi berjalan perlahan mendekati prasasti Community Development Camp (Comdeca) di Desa Lebak Harjo, Kabupaten Malang. Pada bagian atas prasasti terdapat patung empat pramuka penegak dan pandega memegang tiang bendera. “Pramuka membuka keterpencilan desa kami,” kata Harijadi, 79 tahun, warga Lebak Harjo, 65 kilometer selatan Kota Malang.

Dengan berseragam pramuka, Sabtu (18/6), Harijadi ikut berfoto bersama dengan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Azrul Azwar di depan prasasti. Azrul yang ditemani pimpinan Kwarnas memang mengunjungi daerah ini untuk memantau persiapan Lebak Harjo sebagai Desa Pramuka dan rencana membangun Monumen Pramuka Sedunia. Azrul berharap monumen yang merupakan usulan Kwartir Daerah Jawa Timur itu dapat diresmikan tahun depan pada perayaan 100 tahun kepramukaan masuk ke Indonesia.
Dalam sejarah pramuka, Brownsea Island menjadi monumen atau tonggak karena merupakan lokasi diselenggarakannya perkemahan pramuka pertama kali pada 1907.  Perkemahan di pulau yang terletak di selatan Inggris dan dipimpin Lord Baden Powell ini membidani kelahiran kepramukaan atau scouting.
Apa arti penting Lebak Harjo yang terletak di pesisir selatan Kabupaten Malang ? “Wilayah ini menjadi wahana kegiatan pramuka yang manfaatnya dirasakan langsung masyarakat,” kata Azrul Azwar. Pada 18 Juni sampai 29 Juli 1978, desa ini menjadi lokasi Perkemahan Wirakarya Nasional dan Perkemahan Wirakarya Asia yang pertama (1 st Asia Pasific Community Service Camp).
Perkemahan Wirakarya merupakan kegiatan bakti kepada masyarakat oleh penegak (usia 16-20 tahun) dan pandega (21-26). Kegiatan bakti ini diinspirasi oleh pidato Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada World Scout Conference ke-23 tahun 1971 di Tokyo, Jepang. Pidato Sultan HB IX yang ketika itu menjabat Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka ini, mendapat sambutan luas dan dianggap sebagai pembaruan dalam kegiatan kepramukaan di dunia.
Presiden Soeharto membuka perkemahan ini dan menandatangani prasasti bertuliskan: “Di sini kau berbakti, di sini kau mengabdi, di sini kau bina perdamaian dunia.” Ribuan pramuka dari dalam dan luar negeri membangun jalan tembus Lebak Harjo ke pantai Licin, jembatan Belly, masjid, gereja, los pasar desa, Puskesmas dan melakukan kegiatan pemberantasan buta huruf.
Pada 26 Juli hingga 8 Agustus 1993, Lebak Harjo menjadi lokasi Community Development Camp. Pramuka utusan dari seluruh dunia membangun jalan tembus Lebak Harjo ke Lebakroto (ibu kota kecamatan Ampelgading dan tempat pelelangan ikan. Mereka juga mengeraskan jalan Lebakharjo-Licin, renovasi masjid dan gereja serta bakti non-fisik.
Kwartir Nasional pada 1989 mengikutsertakan Lebak Harjo dalam ajang World Scout Competition on Habitat mewakili Indonesia dan meraih juara kedua. Lebak Harjo memang sengaja dipilih menjadi lokasi bakti masyarakat pramuka. “Karena daerahnya terpencil dan warga sulit menjual hasil buminya,” kata Haryadi, mantan Ketua Sangga Kerja Perkemahan Wirakarya Asia yang pertama tahun 1978. Dewan Kerja Daerah Jawa Timur dimana Haryadi menjadi ketuanya, lantas mengusulkan Lebak Harjo sebagai tuan rumah pada kwarda dan kwartir nasional.
“Berkat bakti pramuka, warga cepat menjual hasil bumi ke luar desa,” kata Kepala Desa Lebak Harjo Sumarno. Menanam kopi, durian dan hasil bumi lain menjadi matapencaharian warga. Jaringan listik juga disalurkan ke desa ini.
Harijadi masih ingat jalan utama di Lebak Harjo lebarnya hanya 1,5 meter. Butuh waktu 4 jam berjalan kaki menuju jalan raya. Para peserta perkemahan kemudian membangun jalan yang dapat dilewati kendaraan roda dari dua arah.
Menurut Sumarno, pihaknya masih menjaga bangunan dan barang peninggalan pramuka dari seluruh dunia. Mulai dari gedung sekretariat panitia, rumah peristirahat Presiden Soeharto hingga prasasti. Dia menyiapkan lahan untuk digunakan sebagai Monumen Pramuka Sedunia.
Sejumlah spanduk menyambut kehadiran pimpinan kwartir nasional dan kwartir daerah Jawa Timur di Lebak Harjo. Salah satu spanduk bertuliskan: “Masyarakat Lebak Harjo dulu, kini dan sampai kapanpun tetap berjiwa membangun Desa Pramuka.”  (Untung W.)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grocery Coupons